Senin, 05 Desember 2016

Penghuni Hati Yang Abadi




Sulikhah lahir di Magelang pada tanggal 10 November 1968. Beliau lahir dari pasangan Baderi dan Mariyah. Sulikhah merupakan anak ke-5 dari 9 bersaudara. Beliau memiliki 1 kakak laki-laki, 3 kakak perempuan, 3 adik laki-laki, dan 1 adik perempuan. Beliau tinggal di rumah sederhana di Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang bersama 8 saudaranya.
Sulikhah menempuh pendidikannya di Sekolah Dasar di Desa Trasan. Setiap hari beliau berangkat sekolah dengan berjalan kaki bersama teman-temannya. Riwayat pendidikan beliau hanya sebatas sampai lulus SD sederajat. Hal itu dilakukan karena faktor ekonomi. Orangtua beliau hanya bekerja sebagai petani. Maka dari itu, beliau harus mengalah untuk menyekolahkan adik-adiknya. Ia merasa kasihan kepada orangtuanya yang pasti kesulitan dalam mencari nafkah untuk menghidupi 9 orang anak.
Pada tahun 1990, Ia bekerja di pabrik variasi mobil. Pabrik itu terletak di Jalan Ikhlas, Magelang. Beliau bekerja pada pagi hari sampai sore hari, sekitar pukul 08.00-17.00 WIB. Beliau hanya berangkat dengan jalan kaki dan pulang pun dengan jalan kaki. Karena pada zaman itu hanya ada sedikit kendaraan umum. Jadi beliau berjalan kaki untuk pulang maupun pergi. Beliau berjalan kaki bersama teman-temannya sehingga beliau tidak akan merasa bosan atau kelelahan.
Kemudian pada tahun 1991, beliau menikah dengan seorang pria bernama Muchammad Choirul Anwar. Choirul bertempat tinggal di Dusun Plikon, Trasan, Bandongan, Magelang. Sulikhah pun pindah ke rumah mertuanya. Beliau sekaligus merawat mertuanya karena sakit tua. Pada 21 Juni 1999, beliau dikaruniai seorang anak perempuan bernama Afifatul Maulidina yang saat ini sedang duduk di bangku SMAN 2 Magelang kelas XII IPS.
Beliau merupakan sosok yang baik hati, ramah, dan suka menolong. Beliau sering sekali memberikan makanan kepada tetangga yang sudah tua. Meskipun hanya makanan disini saya merasa kagum kepada beliau karena suka menolong orang yang kesusahan.

1 komentar:

  1. OK, terima kasih. Pekerjaan begini saja mengapa harus ditunda sampai "hampir magrib"!

    BalasHapus